Lynx yang mendapat pertanyaan dari Lala dan mendengar respon kakeknya hanya tersenyum dan menatap Lala serta kakeknya."Tidak mengapa kakek Mochi. Aku kesini karena ingin ke suatu tempat. Kalian bisa ikut kesana agar aman."

"Tuch kakek, Lynx sangat baik, tidak mempermasalahkan pertanyaanku." Kata Lala sambil menjulurkan lidahnya. Sikap Lala ke kakeknya berbeda jauh dengan sikap dia ke orang lainnya. Bagi Lala, kakeknya adalah keluarganya satu-satunya, dan dia selalu bersikap manja terhadap kakeknya.

Mochi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah cucu kesayangannya. Sejak kehilangan ayahnya, Mochi selalu berusaha memanjakan dan menghiburnya.

"Lynx, apakah semua orang di pulau ini sekuat dirimu?" Tanya Mochi dengan penasaran. Mereka sudah bertemu dengan rombongan yang menyergap mereka dan melihat meski memiliki fisik besar dan kuat, namun mereka berbeda jauh dengan pemuda di hadapannya.

"Betul, kamu sangat kuat. Dapat mengalahkan makhluk sekuat itu dengan mudah. Kekuatan dan kecepatanmu sangat luar biasa" Kata Lala dengan mata berbinar. "Kami sudah mencoba mengalahkannya, tapi meski kami bekerjasama, tetap tidak mampu melukainya."

Lynx tersenyum. "Aku memiliki sedikit kekuatan lebih dibandingkan penduduk asli disini." Jawabnya singkat. Lynx tidak ingin menceritakan rahasianya kepada mereka karena dia harus selalu berhati-hati, walaupun dia yakin, Lala dan kakeknya memiliki nasib yang sama dengan dirinya, sama-sama dipanggil oleh ritual suku Monrest.

Lala menatap Lynx dengan penuh rasa ingin tahu. "Penduduk asli? Lalu… bagaimana denganmu? Apa kamu bukan berasal dari dunia ini?"

Lynx kaget mendengar pertanyaan Lala. Ekspresinya berubah, dia merasa sudah kelepasan bicara. Wanita di depannya ini awalnya dianggap sebagai wanita biasa, meski memiliki kecantikan diatas rata-rata dan terlihat sangat dewasa, namun setiap celah dari kata-kata yang Lynx ucapkan, bisa membuat wanita itu menebak apa yang tidak ingin Lynx ceritakan.

"Kamu tidak perlu menjawabnya jika tidak ingin cerita." Kata Lala saat melihat Lynx terdiam. Lala merasa Lynx mungkin keberatan dengan pertanyaan yang dia ajukan.

Lalu lalu menyadari tatapan Lynx yang tertuju kepadanya. Lala merasa malu dan menutupi dadanya dengan kedua tangan saat melihat arah mata Lynx memperhatikan tubuhnya. Lynx yang menyadari perubahan sikap Lala langsung mengalihkan pandangannya. Lynx yang sedang melamun dan memikirkan pertanyaan Lala, tidak menyadari arah tatapan matanya yang tidak sengaja mengarah lama ke arah Lala, walaupun tidak ada niat untuk bersikap kurang ajar.

"Maaf, aku hanya berpikir apakah pakaianmu bisa dijahit dan di perbaiki." Katanya mencari alasan untuk menghilangkan kesalahpahaman di antara mereka.

"Terimakasih Lynx." Kata Lala dengan pelan dan wajah memerah.

Mochi di samping hanya melihat dan memperhatikan interaksi dua pemuda di depannya."Cucuku ternyata bisa bersikap seperti ini di depan pria lain." Batinnya. Mochi melihat Lynx adalah pemuda yang baik, berbeda dengan bayangannya sebelumnya mengenai penduduk lokal yang kasar dan tidak memiliki tata krama.

"Jadi bagaimana? Kamu menyebut tentang penduduk asli. Apakah kamu juga penduduk asli di dunia ini ?" Lala mengulangi pertanyaannya.

Lynx merasa tidak dapat menemukan alasan untuk mengalihkan pertanyaan Lala. Di depan Lala, Lynx merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang sedang di introgasi gurunya, "Mereka senasib denganku, seharusnya tidak mengapa mereka mengetahui tentangku." Batinnya.

Lynx tersenyum dan menggeleng perlahan, sorot matanya berubah menjadi lebih lembut. "Tidak. Sebenarnya aku sama seperti kalian. Aku juga tersesat di sini beberapa bulan yang lalu. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi tiba-tiba aku berada di tempat ini. Awalnya aku tidak percaya, tapi sekarang aku hanya mencoba bertahan… dan mencari cara untuk kembali ke duniaku."

Mochi mendekatkan tubuhnya sedikit, matanya memicing. "Dunia asalmu… seperti apa?"

Lynx terdiam sejenak, lalu berbicara dengan nada pelan. "Yang pasti duniaku tidak seperti ini. Tidak ada makhluk mutasi atau hutan liar yang penuh ancaman. Duniaku lebih… modern, lebih banyak orang daripada disini. Tapi aku merasa sudah terlalu lama berada di sini sehingga aku hampir lupa rasanya hidup di sana."

"Lynx, mungkinkah kita berasal dari dunia yang sama?" Tanya Lala."Ceritakan tentang duniamu!"

Mereka lalu saling bercerita tentang dunia mereka masing-masing. Dunia mereka ternyata memiliki banyak perbedaan. Banyak hal yang ada di tempat Lala dan umum diketahui oleh penduduk di dunia mereka, tetapi Lynx tidak mengetahuinya. Begitu juga Lala tidak memahami tempat-tempat dan sejarah yang diceritakan Lynx.

"Yang pasti nenek moyang kami sudah memiliki teknologi yang canggih. Mereka mampu membangun teknologi berupa medan energi yang dapat disesuaikan kegunaannya sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan ada metahuman di dunia kami, hasil dari rekayasa genetika." Kata Lala, menceritakan tentang dunianya.

"Lalu apakah kalian punya rencana untuk dapat kembali lagi ke dunia kalian?" Tanya Lynx dengan tatapan penuh harap. Dia berharap bisa kembali ke dunianya bersama Leena, kembali ke rumah dan menemui keluarganya.

Lala menunduk, berpikir. Kata-kata Lynx memicu sesuatu dalam dirinya, tetapi dia memilih untuk tetap menyimpan rahasia mereka. "Kami juga ingin kembali. Tapi kami bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."

"Begitu pula aku," jawab Lynx sambil menghela napas panjang. "Setiap orang yang kutemui di sini hanya tahu tentang bertahan hidup, dan tidak ada yang tahu jika aku berasal dari tempat berbeda, setidaknya tidak ada yang menanyakan secara detail dari mana asalku."

Lynx melanjutkan,"Tapi aku harap jika nantinya kalian menemukan sesuatu yang bisa membantu, katakan padaku."

Lala mengangguk, lalu mencoba mengganti topik. "Tadi kamu bilang ada suku yang bisa mengendalikan makhluk mutasi. Kami sempat bertemu dengan rombongan mereka beberapa waktu lalu. Mereka membawa beberapa makhluk mutasi yang sangat besar, dan orang-orang itu terlihat sangat kuat dan terlatih. Salah satu dari mereka duduk di atas makhluk mutasi yang paling besar. Kami melarikan diri karena mereka menyerang kami."

Lynx menatap Lala tajam, tubuhnya sedikit tegang. "Kamu bilang, bertemu dengan rombongan yang membawa makhluk mutasi? Bagaimana ciri-ciri mereka?"

Lala lalu menceritakan ciri-ciri rombongan yang mereka lihat berdasarkan ingatannya, karena ketika penyergapan terjadi, dia dan kakeknya segera melarikan diri sebelum Kane dan timnya menyadari kepergian mereka.

Lala melanjutkan ceritanya, dia menceritakan ciri-ciri rombongan yang dilihatnya, sambil mencoba mengingat detailnya, "leher mereka dihiasi kalung dari taring dan tengkorak kecil yang tampak seperti milik binatang."

Ekspresi Lynx berubah serius. Dia segera berdiri, tatapannya penuh kewaspadaan. "Itu Suku Monrest. Dimana kalian bertemu mereka?"

Mochi mengerutkan dahi. "Suku Monrest? Apa mereka berbahaya?"

"Lebih dari yang bisa kalian bayangkan," jawab Lynx dengan nada datar. "Mereka adalah suku yang paling kejam di dunia ini. Mereka tidak hanya membunuh, tetapi juga mengambil orang-orang sebagai budak atau eksperimen untuk membuat lebih banyak makhluk mutasi. Jika kalian melihat mereka, kalian harus menjauh. Mereka menangkap orang-orang untuk acara ritual dan menggunakan mereka sebagai pengorbanan."

"Kami bertemu mereka saat mengarah ke arah barat pulau. Kami sendiri waktu itu muncul di sebelah utara pulau ini." Kata Lala sambil memandang ke arah kakeknya.

Lala menggigit bibirnya, merasa sedikit bersalah karena tidak menyebutkan bahwa dia dan kakeknya melihat lebih dari sekadar rombongan Monrest. Tapi dia memutuskan untuk tetap diam.

Lynx mengusap rambutnya, terlihat gelisah. "Aku harus segera kembali ke perkampungan. Jika mereka sudah memasuki wilayah ini, maka orang-orang di perkampungan ada dalam bahaya."

"Bisa kami ikut bersamamu?" potong Lala tiba-tiba.

Lynx menatap Lala, tampak ragu. "Sejujurnya, tempat itu sebelumnya adalah tempat yang aku sarankan untuk kalian berlindung, karena jauh dari suku Monrest, dan mereka juga sudah menyiapkan berbagai peralatan, persenjataan dan pertahanan. Tapi dengan kedatangan suku Monrest ke tempat ini, lebih cepat dari perkiraanku, membuat tempat itu tidak aman lagi, terutama bagi kalian."

"Kami tidak tahu area ini," lanjut Lala, suaranya penuh permohonan. "Kami tidak punya arah. Jika kau tahu ke mana harus pergi, biarkan kami ikut. Kami bisa membantu. Kami juga memiliki kemampuan untuk bertarung, jadi dapat membantu kalian."
